Baru.

Akhirnya badan ini tergerak untuk melangkahkan kakinya setelah seharian bermalas-malasan di ranjang. Setelah malam pergantian tahun yang cukup spektakuler belum lagi perjalanan macet sepulangnya aku yang membuatku baru bisa terlelap pukul 4 dini hari. Sepertinya tidur seharian adalah tindakan yang dibenarkan.

 

Hari ini resmi sudah aku meninggalkan tahun terakhirku sebagai seorang remaja belasan tahun. Tidak ada lagi rengekan, pembenaran, dengan dalih aku masih “anak-anak”. Karena dalam hitungan bulan aku akan resmi memasuki tahun ke 20 dalam hidupku.

 

Menoleh sedikit ke belakang, 2015 telah menjadi tahun yang sangat luar biasa buatku. Mungkin akan jadi satu dari sekian banyak tahun yang tak akan aku lupakan dalam hidup. Tahun ini sepertinya Tuhan memberikanku banyak sekali pelajaran yang aku butuhkan sebelum aku memasuki pintu dunia itu sendirian.

 

Pertemuan.

Tahun ini aku bertemu dengan banyak hal. Tidak hanya dengan hal baru namun hal yang lama juga. Mulai dari punya keberanian untuk mengajak teman-teman lama kumpul. Bertemu dengan bapak-ibu guru yang syukurlah belum lupa kepadaku. Menginjakan kembali kaki ke sekolah yang sudah lama tidak aku kunjungi. Memasuki kelas yang harus aku ulang bersama adik-adik junior. Tahun ini mempertemukanku dengan banyak orang hebat yang telah memberikanku banyak pelajaran dalam setiap pertemuannya.

Aku juga bertemu dengan teman kecilku, Poci, untuk pertama kalinya.

Dan yang paling aku syukuri pula aku menemukan sisi-sisi lain diriku yang tidak pernah aku sadari sebelumnya. Aku belajar untuk bersikap lebih berani, lebih lepas, dan sadar 100% bahwa tidak ada yang salah dengan hal itu.

 

Well, setiap ada pertemuan juga akan dihadapkan dengan perpisahan. Itu adalah hal hakiki yang seharusnya aku selalu sadari. Tapi aku tak pernah menyangka setahun kebelakang menghadapkanku dengan banyak sekali perpisahan.

 

Membuatku sadar akan satu hal. Yang selalu ada, gak akan selalu ada.

 

Awal tahun salah satu sahabatku semenjak bangku Sekolah Menengah Pertama mengabarkan akan pindah keluar kota. Yang berarti aku akan jarang sekali bertemu dengan dia. Yah, walaupun cukup sedih tapi setidaknya aku bersyukur dia masih ada di tempat yang bisa aku jangkau. Dan dia sedang mengejar cita-citanya. Apasih yang bisa aku lakukan selain mendukungnya dengan sepenuh hati?

Tuhan juga mengingatkanku akan waktu dan kematian melalui guru dan temanku. Aku sama sekali tidak menyangka temanku bisa mengidap penyakit seberat itu. Dia masih muda sekali. Ada sedikit rasa penyesalan dalam dadaku mengingat mereka. Aku yang dahulu tak pernah meluangkan waktu untuk bertemu dengan mereka saat mereka sehat akhirnya harus kehilangan mereka…

Dan dengan berat hati tahun ini ditutup dengan kepergian teman kecilku. Pertemuan yang singkat. Sangat singkat malah. Keberadaannya membuatku sangat senang memiliki teman bercerita saat aku senang maupun sedih. Walaupun dia tidak bisa membalas perkataanku tapi aku tahu pasti dia tidak akan menghianatiku. Sayangnya, dia pergi lebih cepat dari pada yang aku kira. Saat aku mulai bisa melawan ketakutanku. Saat aku mulai berani memberikan tanganku. Saat aku mulai hafal bagaimana cakar mungilnya saat menyentuhku. Hewan peliharaan pertamaku. Walau terasa amat berat, sedih, dan kecewa. Kadang aku bertanya buat apa dia datang ketika harus pergi dengan waktu sesingkat itu?

 

Tapi begitulah hidup. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Hanya mungkin Tuhan ingin mengajarkanku agar aku menjadi gadis yang lebih kuat.

 

Ingin sekali rasanya berterima kasih pada orang-orang yang sudah ada dan mewarnai hidupku tak hanya satu tahun kebelakang tapi semuanya jika aku bisa. Setiap dari mereka memberikan aku satu pelajaran. Baik atau buruk. Jahat atau tidak. Keberadaanmu, mereka, dan kalian membuat aku menjadi aku yang sekarang.

 

Di hari pertama tahun 2016 aku juga ingin belajar sesuatu yaitu memaafkan. Karena sebegitu pentingnya keberadaan seseorang dalam hidup kita. Aku tidak akan siap jika harus kehilangan dalam situasi yang akan mempertemukanku dengan penyesalan.

Aku belajar, bahwa tidak semua orang akan berbuat baik pada kita. Sebaik apapun mungkin prilaku kita terhadap mereka. Setiap orang memiliki mata mereka masing-masing untuk melihat dunia. Dan alasan-alasan yang mungkin tidak pernah kita ketahui. Akupun juga sama di mata kalian. Kalian juga sama dimataku.

Walau mungkin akan ada banyak orang yang tetap bersikap tidak baik padaku. Aku tetap ingin bersikap baik pada mereka. Bukan untuk mereka. Tapi untuk kebaikan aku sendiri.

 

Apakah aku sudah siap memasuki tahun yang baru ini?

Semoga saja.

 

Selamat tahun baru semua!

 

Gadis yang sedang rindu martabak,

Viny.

Poci.

19 Desember 2015.

 

Beberapa hari sebelum Natal tiba aku mendapatkan hadiah istimewa. Malam itu seperti biasa setelah show theater berlangsung kami melakukan sesi 2shoot bersama fans. Dan hari itu salah satu dari mereka bilang padaku…

 

“Aku ada sesuatu buat kamu ”

 

Malam itulah pertama kali aku bertemu dia. Beberapa bulan belakangan aku memang sudah kepikiran untuk mengadopsi seekor kucing. Tapi kali ini hewan lucu berbulu kecil itu benar-benar ada di pangkuanku!

Dia menatapku dengan kedua matanya yang biru dan bulu coklat muda seperti teh susu. Sepanjang perjalanan ke Rumah aku berpikir nama apa yang cocok untuknya. Aku lupa sekali bertanya dia itu laki-laki atau perempuan, umur berapa, bagaimana aku harus merawatnya. Aku lupa sekali. Aku rasa aku terlalu senang menggendongnya.

 

Sesampainya di Rumah ada satu nama yang keluar dari mulutku.

 

“Poci…”

 

Nama yang lucu bukan? karena dia mengingatkanku dengan teh susu yang suka aku beli di Stasiun. Walau aku tak tahu jenis kelaminnya. aku awalnya mengira dia bentina kata orang pet shop yang aku datangi juga berkata hal yang sama.

 

Butuh waktu yang lama katanya untuk seekor kucing beradaptasi. Poci yang walaupun lincah tapi tak mau makan. Aku jadi khawatir. Kata kalian tidak apa, dia pasti akan makan sendiri. Tapi dia tidak.

Akhirnya aku bawa Poci ke dokter. Kata dokter dia sudah lama kena diare. Waktu itu Poci baru 2 hari ada di Rumah. Dan saat itu juga aku baru tahu kalau Poci itu sebenarnya pejantan. Dokter juga bilang ia khawatir dengan mata Poci. Seperti ada selaput putih di matanya. Aku bilang hal yang sama tapi dia merespons gerakan yang ada. Jadi tidak mungkin dia buta. Mungkin virus, itu yang dokter bilang selanjutnya.

 

Berat Poci cuma 0,5 kg. Tidak sampai 1 kg. Dia kurus sekali. Makanya tidak boleh di vaksin dulu karena tidak memenuhi persyaratan yang ada. Aku jadi sangat khawatir.

Dokter bilang coba Poci diberi makanan lunak jangan yang keras dulu. Poci baru berumur 2 bulan jadi mungkin dia belum bisa mengunyah makanan yang keras. Siang itu, aku juga diajari bagaimana caranya menyuapi Poci makan.

 

Tidak hanya aku yang khawatir dengan Poci. Mama, Papa, dan Vidy juga sangat khawatir. Walaupun baru sebentar berada di Rumah keberadaan Poci sudah seperti anak baru untuk Mama dan Papaku.

Tiap hari kami bergantian menyuapi dan memberi obat Poci. Responnya positif. Poci sudah mau makan sendiri dan sudah mulai kembali lincah. Dokter juga bilang Poci belum boleh mandi… jadi, Poci tuh bau. Tapi gak apa-apa kami tetap sayang kok.

 

Tapi kemarin Poci lemas sekali. Bahkan dia hanya berbaring tapi tidak tidur sama sekali. Aku langsung bawa dia ke dokter takut ada apa-apa.

Benar, kata dokter suhu tubuh Poci udah 4 digit di bawah normal. Badannya harus disinari lampu katanya agar hangat. Poci juga harus diinfus.

 

Aku sedih banget. Takut Poci kenapa-kenapa…

 

Aku ingin lihat Poci sampai dewasa. Baru satu hari semenjak Poci dirawat aja Rumah rasanya sepi sekali.

Aku ingin mengakhiri tahun ini dengan senyuman. Tolong bantu doain Poci ya teman-teman. Berguna sekali buatnya.
image

11:47

Gak mau ditinggal,

Kakaknya Poci.

Waktu.

Andai aku cukup pintar

aku ingin membuat mesin penambah waktu

mungkin aku tamak, aku ingin lebih

karena kamu hanya perlu waktu…

untuk menuntunmu pulang

membantumu berpikir

memberikanmu jawaban

andai aku cukup pintar

aku tak perlu meminta

sayangnya aku tak cukup pintar

aku butuh waktu itu sekarang

berikan padaku.

image

image

 

8:38,

masih gadis yang sama.

tak sekecil dulu lagi.

Pulang.

“Ma, teteh mau ke Jogja dong.”
“Cariin tiket ya”
“Please Ma…”

Pesan yang jika diucapkan akan terdengar sangat memelas itu aku kirimkan tepat setelah selesainya salah satu event yang sangat menyita perhatian selama 1 bulan terakhir. Hampir 1 bulan penuh kegiatanku penuh pengulangan. Kuliah-latihan-tidur terus berlanjut tiap harinya. Tidak hanya itu semua berbarengan dengan kondisi fisikku sendiri yang sempat kurang fit.

Jadi, setelah semua itu selesai aku benar-benar merasa butuh menghirup udara lain…
Memandang langit lain…
Selain langit Jakarta…

image

Akhirnya Senin itu pukul 7 pagi aku tiba juga di Bandar Udara Adisutjipto. Kedatanganku yang mendadak tanpa ada angin hujan hari itu disambut matahari yang amat terik tapi syukurlah sangat menyegarkan pikiran dan ragaku.

Tak hanya itu aku disambut oleh serangan pesan protes dari teman-teman yang baru aku kabari saat aku tiba.

“Lah?! Kok baru bilang??”
“Yah aku ada kelas apa bolos aja ya?”
“Lho Vin kok gak ngabarin e??”

Pesan-pesan singkat yang membuatku tersenyum.

Sesuatu yang membawaku kesini… membuatku lupa akan apa yang terjadi di “rumah”. Walaupun pada akhir perjalanan apapun akan mengembalikan kita ke rumah ya? Hahaha

Singkat cerita di sana aku ketemu teman-teman lama sama keluarga di Jogja.

Pergi ke SMA dulu tempat aku sekolah terus cerita-cerita sama pak satpam yang ternyata masih inget sama aku walaupun cuma 1 tahun sekolah di situ.

Trus aku juga wisata kuliner!

Pertama kali datang aku langsung dijemput temen aku diajak makan geprek. Dalem hati mikir “oh kayak ayam penyet kali ya”. Ah, emang dasarnya daerah istimewa. Makanannya juga ternyata ajaib dan istimewa. Jadi geprekan itu ayam goreng tepung + cabai rawit + tahu/tempe/telor sesuai pilihan kamu.

Lucunya pas makan kamu ambil sendiri semuanya termasuk berapa jumlah cabai yang mau diulekin sama mbanya. Trus porsi nasinya buebas sebuebas-bebasnya. Makan banyak dikit harga sama.

Mau tebak gak aku habis berapa makan 2 potong ayam + tahu + nasi sepiring penuh? Cuma 13 ribu! Hahaha

Sorenya aku ngajak temen-temen ke Tempo Gelato. Katanya lagi hits banget di Jogja. Berhubung aku juga lagi ngidam es krim. Langsung deh cus kesana.

Ternyata tempatnya kecil trus susah cari parkirnya soalnya yang datang ramai… kata teman aku aja hari itu termasuk sepi (padahal itu aja udah nunggu 20 menit buat parkir). Sekali lagi harganya bikin aku kaget. 25 ribu buat 2 scoop ice cream. Kalo di sini 45ribu 1 scoop yah? Hihi jadi jajan mulu deh.

Abis makan gelato aku masih laper… trus teman-teman udah pada ngajakin ke fine dining gitu kan yang ada di Jogja. Tapi aku pikir tempat kayak gitu kan banyak di Jakarta. Aku ajakin aja ke WS (pasti warga Jogja dan sekitarnya tau). Seketika aku diketawain sama mereka. Katanya diajakin makan enak malah mau WS.

Huh, biarin aja namanya juga kangen?

Yogyakarta…
Kota yang selalu aku anggap rumah walaupun bukan kampungku sebenarnya…
Isinya yang ramah…
Laju kota yang lambat…
Seakan memanggilku untuk pulang…

Kembali ke Jakarta dengan hati yang ringan. Membawa segenggam kenangan indah ditangan. Untuk membuatku tak lupa memang ada hal yang membahagiakan.

image

Sampai berjumpa lagi, kota istimewa.
Suatu saat nanti bawa aku kembali pulang ya?